Mengenal J-League Sepak Bola Jepang

Advertisemen
Jepangers - Sejak didirikan pada 1991, J-League telah menjadi kompetisi terdepan di Asia. Tidak hanya menjadi ajang yang memperoleh animo dalam negeri dan regional, tetapi kompetisi itu telah pula menjadi batu loncatan sejumlah pemain Asia untuk berkiprah di kompetisi top Eropa. Alumnus J-League telah banyak dikenal fans sepakbola dunia, mulai dari Hidetoshi Nakata, Park Ji-sung, Keisuke Honda, hingga Shinji Kagawa.

Mengenal lebih dekat J-League, kompetisi sepakbola terbaik Asia


Selain itu, persaingan sengit juga kerap terjadi di J-League dengan klub-klub yang bergantian mendominasi liga. Mulai dari Verdy Kawasaki, Yokohama Marinos, Jubilo Iwata, Urawa Reds, hingga Gamba Osaka, misalnya. Gairah pun terus meningkat dengan rekor rata-rata penonton yang mampu menyaingi kompetisi top Eropa. Tidak heran jika ternyata semua program pengembangan liga tersusun rapi dalam "Visi Ratusan Tahun" yang diharapkan mampu menciptakan "Negara Bahagia Melalui Olahraga".

Semuanya terangkum dalam sejarah J-League yang disusun Jepangers dalam lima bagian:


Di edisi pertama dari lima edisi laporan Jepangers terkait perkembangan dan sejarah sepakbola Jepang, kami menilik ke belakang awal mula J-League dan cerita sukses pertama Jepang.


J-League pertama kali didirikan pada 1991, dan baru terbuka untuk bisnis pada 1993. Lebih dari 20 tahun kemudian, pergerakan sepakbola Jepang telah berkembang sedemikian rupa. Namun jalan menuju profesionalisme dan sukses masih panjang dan penuh hambatan.

Faktanya pada 1993, sepakbola Jepang telah ada lebih dari 100 tahun lamanya, dengan menilik jauh ke belakang pada 1873, ketika kapal perang Inggris membawa olahraga ini ke Yokohama.

Turnamen pertama, yang kemudian disebut Emperor Cup, dibuka pada 1921, yang juga merupakan momen di mana Asosiasi Sepakbola Jepang (JFA) dibentuk. Hanya empat tim yang ambil bagian dan kemudian jumlahnya terus bertambah dalam beberapa dekade terakhir hingga mencapai 6,000 tim, yang juga menjadi indikator bagus untuk perkembangan sepakbola di Jepang.

Sampai pada dibentuknya sepakbola profesional, ada dua kelompok klub yang mendominasi sepakbola Jepang, yaitu komunitas universitas dan tim dari perusahaan.

Rencana untuk mengembangkan sepakbola di mulai pada 1960-an, dan diciptakan dengan latar belakang ide membawa para pekerja bersama-sama melakukan latihan olahraga, sekaligus menjadi sarana publikasi perusahaan.

Beberapa tahun kemudian, pada 1965, Cramer mengambil peran penting untuk mengstimulasi kelahiran Liga Sepakbola Jepang (JSL), kompetisi nasional pertama. Kontestannya adalah sejumlah klub dari perusahaan, yang memiliki kemampuan mengontrak pemain profesional untuk memperkuat tim dan memberikan pemain-pemain tersebut tugas mudah di perusahaan mereka, terutama pekerjaan di pagi hari, sehingga atlet bisa melakukan latihan dengan benar dan tampil bagus atas nama perusahaan yang mereka wakili.

Pada 1960, Furukawa Electric (yang sekarang ini dikenal JEF United Chiba), menjadi perusahaan pertama yang bisa memenangi Emperor Cup an di tahun berikutnya perusahaan lain seperti Toyo Industries (sekarang menjadi Sanfrecce Hiroshima), Yanmar Diesel (Cerezo Osaka), Mitsubishi Heavy Industries (Urawa Reds) dan sebagainya bergantian meraih gelar. Sementara Waseda, dari komunitas universitas, memenangi gelar di tahun 1966.

Meski perkembangan sepakbola menuju ke level yang lebih baik pada saat itu, daya tarik sepakbola di Jepang belum begitu terlihat. Sering sekali pertandingan dilangsungkan di stadion dengan tanpa penonton. Timnas Jepang juga beberapa kali gagal lolos ke Piala Dunia.

Kesuksesan lebih banyak dibawa oleh pemain yang berlaga di luar Jepang, di antaranya Yasuhiko Okudera, yang meraih gelar Bundesliga Jerman dan DFB Pokal bersama FC Kolns pada 1978 dan dikenal di Jerman dengan sebutan 'Dar gelbe Blitz', atau 'Si Kilat Kuning'.

Arsitek utama yang membangun sepakbola Jepang kemudian adalah Saburo Kawabuchi, yang visinya mengenai kejuaraan profesional bisa menjadi kenyataan pada 1993. Sepuluh klub yang ambil bagian sempat terancam dengan kondisi keuangan di musim pertama J-League, sebelum kemudian mendapatkan sambutan dan antusiasme yang luar biasa dan kemudian menjadi dasar dari berlangsungnya kesuksesan di sepakbola Jepang.



Mungkin cerita paling inspiratif adalah Sumitomo Soccer Club, klub kecil yang pencapaian terbaik mereka adalah menjadi juara divisi dua JSL di musim 1986/87. Sumimoto sempat melakukan dengan Kawabuchi pada 1992 untuk bisa bergabung sebagai anggota. Namun keinginan mereka ditolak.

Pihak Kawabuchi mengklaim peluang Sumimoto bergabung adalah 99.9999 persen tidak mungkin.

Masaru Suzuki, presiden klub Sumimoto membalasnya dengan menyatakan: "Itu berarti kami masih punya peluang sebesar 0.0001 persen, ya kan?"

Dan mereka benar mewujudkannya dan setelah membangun stadion pertama di Jepang pada waktu itu, Sumimoto berubah kulit menjadi Kashiwa Antlers, klub tersukses Jepang sampai saat ini.

Namun, mereka bukan kekuatan dominan di sepakbola Jepang pada 1993. Keistimewaan itu didapat Verdy Kawasaki dan Yokohama Marinos, dua tim yang yang melakoni laga bersejarah pembuka kompetisi J-League.

18 bulan setelah dibentuknya J-League sebagai sebuah perusahaan, sekitar 60.000 fans berkerumun di depan stadion Nasional, Tokyo untuk bisa mendapatkan tiket pertandingan pertama.

Yang jadi MC pada waktu itu adalah Kawabuchi, yang sudah berusia 57 tahun. Sambutan yang diberikannya tak muluk-muluk, tapi sangat menginspirasi.

"Didukung oleh semua orang Jepang yang mencintai sepakbola, J-League merupakan mimpi yang melangkahkah kakinya untuk bisa menjadi kenyataan," demikian.

Hasilnya, laga pembuka dimenangi Marinos dengan skor 2-1. Namun hasil tersebut tak lebih penting dari momentum laga itu sendiri, di mana atmosfer dan segalanya sangat luar biasa. Laga pembuka memang sudah selesai, tapi sepakbola Jepang baru saja dimulai.


Dalam edisi kedua dari lima bagian seri sejarah J-League, Jepangers melihat ke belakang pada kesuksesan Verdy dan datangnya legenda Brasil, Zico, sebagai katalis untuk perkembangan.



Tiga klub lain berasal dari kota besar industri di pantai pasifik, yaitu Nagoya Grampus Eight, Gamba Osaka, dan Sanfrecce Hiroshima.

Klub paling populer, tidak diragukan lagi adalah Verdy Kawasaki. Banyak pemain mereka, seperti Kazuyoshi Miura, Nobuhiro Takeda, dan Tsuyoshi Kitazawa, memiliki citra sebagai "rock star" yang membedakan J-League dari kebanyakan pemain baseball, olahraga paling populer di Jepang.

Musim pertama berstruktur dua kejuaraan, masing-masing menerapkan sisem round-robin, di mana tim akan bermain kandang dan tandang, untuk total 36 pertandingan setiap klub. Pemenang kejuaraan musim semi dan pemenang musim gugur akan bertemu di final, yang juga digelar dua kali, untuk menentukan juara sejati musim itu.

Sistem yang tidak biasa itu memberikan beberapa keuntungan, pertama, menjamin final menarik yang mirip dengan sistem baseball Jepang dengan Nippon Series mereka, sebuah model kompetisi yang paling dikenal oleh kebanyakan penggemar olahraga di Jepang.

Terlebih lagi, sistem dua kejuaraan akan membuat tensi tetap tinggi hingga akhir musim karena setelah kejuaraan pertama, klasemen akan jadi diulang dan persaingan merebut spot untuk final dimulai dari nol.

Sistem dua kejuaraan dan pertandingan final digunakan dari tauhn 1993 hingga 2004, dengan pengecualian tahun 1996, yang akan dijelaskan lebih lanjut di edisi berikutnya.

Hal lain yang menarik pada sepakbola Jepang saat itu adalah sebuah pertandingan harus berakhir dengan pemenang. Harus. Di sebuah negara dengan tradisi kuat bela diri, pertarungan diharapkan diakhiri dengan pemenang dan pecundang yang jelas.

Karena itu, kapan pun pertandingan imbang selama 90 menit, tim akan bermain dua kali 15 menit babak tambahan, hingga sebuah gol kemenangan atau "V-Jepangers" tercipta. Jika kedua tim tetap imbang setelah bermain dua jam, duel akan diakhiri dengan penalti.

Tidak masalah jika 28 tendangan penalti sekaligus dibutuhkan untuk mencari pemenang, seperti yang terjadi saat pertandingan antara Nagoya Grampus Eight dan Urawa Reds pada Maret 1995, salah satu tim harus menang!

Pada 1993, J-League mendapatkan izin dari FIFA untuk mendaftar tim di klasemen menurut jumlah kemenangan, karena tidak ada poin yang dihitung. Kemenangan 5-0 dalam 90 menit, atau 1-0 di penalti, tidak membuat perbedaan.

Dan berbicara kemenangan, Antlers dan Verdy, masing-masing berhasil memenangi dua kejuaraan pada 1993 dan berhak melaju ke final yang dimainkan di National Stadium, Tokyo pada Januari 1994.

Pertandingan pertama didesain sebagai laga kandang Antlers, tetapi Verdy sukses memetik kemenangan 2-0. Miura mencetak gol pertama di menit ke-60, dan pemain asal Brasil Bismark mencetak gol melalui tandukan memanfaatkan tendangan penjuru beberapa detik sebelum waktu normal habis.



Pertandingan kedua, setidaknya di media, hanya sebuah formalitas untuk Verdy, tetapi Antlers tidak sepakat. Tim kuda hitam yang dipimpin oleh legenda Brasil, Arthur Coimbra Zico, yang absen di laga final pertama, masuk dalam daftar starter. Sementara banyak pemain Verdy yang mengatakan menghadapi sosok juara asal Brasil adalah sebuah kehormatan dan memberi motivasi, Zico yang saat itu berusia 40 tahun, masih menjadi pemain yang di atas rata-rata untuk J-League.

Pada menit ke-38, rekan setimnya, Alcindo, mencetak gol melalui tendangan voli dan kembali memanaskan persaingan. Klimaksnya terjadi di babak kedua. Penalti kontroversial diberikan setelah pemain Verdy asal Brasil, Paulo, terjatuh karena sedikit sentuhan. Kali ini "King Kazu" mencetak gol dan tampak menyegel kemenangan. Bagaimanapun juga, apa yang terjadi sebelum bola ditendang yang masuk ke dalam sejarah.

Saat Miura siap melakukan tendangan penentu, Zico, yang masih marah dengan keputusan wasit, berjalan ke titik putih, dan tanpa basa-basi meludahi bola. Usai kekacauan di atas lapangan, Zico mendapatkan kartu kuning kedua dan dipaksa keluar dari lapangan.

Terlepas dari insiden itu, itu adalah waktu di mana Verdy Kawasaki merayakan gelar juara pertama mereka. Pada November, mereka juga memenangkan gelar Piala Liga kedua, yang sekarang disponsori oleh Nabisco. Seperti yang disebutkan sebelumnya, kompetisi tertua J-League digunakan sebagai percobaan untuk menggelar J-League pada 1992, dan dimenangkan oleh Verdy.

Kazu meraih penghargaan sebagai MVP musim itu, tetapi dia bukan top skor. Dia mencetak total 20 gol, tertinggal delapan gol dari Ramon Diaz. Pada tahun pertama, rata-rata penonton liga sekitar 18 ribu setiap pertandingan dan total lebih dari 3,2 juta suporter yang menyaksikan pertandingan.


Bagian ketiga ini berkisah tentang perjuangan tim-tim J-League di akhir 1990-an, kebangkitan Kashima Antlers & Jubilo Iwata, serta kejatuhan Yokohama Flugels.


Periode 1996 hingga 2002 bisa dikatakan sebagai masa-masa sulit J-League. Dalam kurun waktu tersebut sampai dimulainya Piala Dunia 2002, J-League mengalami kemerosotan seperti keadaan ekonomi Jepang pada waktu itu.

Di tahun 1996 itu, J-League kedatangan dua klub dari area Kansai, yakni Cerezo Osaka (yang sudah promosi pada tahun 1995) dan Kyoto Purple Sanga. Tahun tersebut juga menandakan hadirnya klub yang bukan berasal dari pulau utama Jepang (Pulau Honshu) untuk pertama kali, yakni Avispa Fukuoka yang berasal dari utara Pulau Kyushu. Dengan komposisi 16 tim, tiap klub J-League kini melakoni bisa melakoni 30 pertandingan per musimnya untuk menyamai jumlah laga di kebanyakan liga-liga Eropa. Namun sebenarnya, bencana baru saja datang.

Dengan keadaaan ekonomi Negeri Sakura yang karut-marut, sepakbola tampaknya sama sekali tidak diperhitungkan. Rata-rata kehadiran penonton di stadion hanya sebesar 13.353 penonton per laga. Beberapa pemain bintang, seperti Pierre Littbarski (yang tampil di Japan Football League/JFL, liga divisi dua yang masih semi-profesional) dan Gary Lineker sudah pergi, termasuk Zico yang juga memutuskan pensiun.

Setelah di tiga tahun awal mencatat rekor kehadiran penonton (tahun 1995 mencapai 6,5 juta penonton), tiba-tiba antusiasme itu merosot tajam di tahun 1997 (kurang dari 3,5 juta penonton). Meski demikian, pada saat-saat ini lahirlah fans hardcore, yakni sekumpulan suporter yang mengikuti tim kesayangannya berlaga kandang-tandang, mendukungnya dengan spanduk dan bendera warna-warni, dan tentunya nyanyian 90 menit tanpa henti.

Tahun 1997, format liga kembali berubah menjadi dua ronde per musimnya (juara liga ditentukan lewat partai final antara pemenang ronde pertama vs pemenang ronde kedua). Format pertandingan pun juga berubah: pemenang dalam 90 menit pertama mendapat tiga poin, Gol pada perpanjangan waktu (V-Jepangers) dihitung dua poin, sementara menang lewat adu penalti hanya dihitung satu poin.

Kashima Antlers muncul sebagai juara liga untuk pertama kali pada tahun 1996. Klub lain yang mendominasi pada era tersebut adalah Jubilo Iwata. Dominasi kedua klub ini benar-benar absolut. Tujuh musim selama kurun waktu 1996-2002, Antlers mengemas empat kali juara liga dan Jubilo meraih tiga tersisa. Selama 12 ronde yang dimainkan pada 1997 dan 2002, Antlers memenangi empat sedangkan Jubilo enam kali. Dalam tahun terakhir supremasi mereka, yakni pada tahun 2002, Iwata menjadi tim pertama yang memenangi kedua ronde, sehingga tak perlu J-League tak perlu mengadakan final untuk memastikan peraih gelar juara.

Beberapa pemain terkenal muncul dalam periode ini. Ada Dunga (Jubilo Iwata) yang tekenal karena memperkenalkan konsep "malicia" - sebuah kata dari bahasa Portugis - ke kamus Jepang. Pria Brasil ini sering masuk headline berita karena ketahuan "menghina" rekan setimnya sendiri selama pertandingan. Dunga tak pernah ragu untuk mengkritik youngster semacam Naohiro Takahara, dan juga tak terintimidasi oleh pahlawan lokal Jubilo, Hiroshi Nanami, Toshiya Fujita, ataupun sang striker legendaris Masashi "Gon" Nakayama.



Jika Jubilo Iwata punya Dunga, maka Kashima Antlers punya Leonardo, meski pada akhirnya ia meninggalkan Jepang pada akhir 1996. Leonardo, yang juga pemain Brasil, merupakan pemain berkelas yang tampil mengesankan dan cerdik. Ia termasuk dalam sedikit pemain dari luar J-League yang mau mempelajari bahasa Jepang.

Kehadiran duo Brasil di J-League itu tidak akan lengkap tanpa kehadiran Dragan Stojkovic. Gelandang serang asal Yugoslavia ini sempat membela Nagoya Grampus pada 1994 hingga 2001 dan disenangi fans karena permainan sepakbolanya yang sangat halus. Pixy, julukannya, adalah seorang playmaker yang sangat bertalenta. Stojkovic juga sempat membuat geram wasit Jepang dengan kelakuannya. Salah satunya adalah saat ia merebut kartu kuning dari wasit dan menodongkan balik kartu tersebut ke sang pengadil lapangan. Ia pun langsung diusir sang wasit.

Kembali ke persaingan Jubilo dan Antlers. Persaingan dua kuda pacuan itu mencapai puncaknya pada tahun 1999 dan 2000. Jubilo menjadi tim pertama Jepang yang memenangi Liga Champions Asia pada 1999. Sedangkan Antlers mencatatkan treble satu tahun setelahnya: memenangi liga, menjuarai Yamazaki Nabisco League Cup, dan merebut Emperor Cup.

Dua perkembangan besar terjadi pada struktur dan regulasi J-League, yakni pada tahun 1999. Pertama, adu penalti ditiadakan. Kedua, tim yang telah bertarung selama 120 menit akan diberikan masing-masing satu poin. Namun, perubahan yang sesungguhnya terjadi pada tahun itu juga, yakni diperkenalkannya J2, divisi dua, yang diikuti 10 tim. Perubahan ini membuat aktifnya sistem promosi dan degradasi.

Sejalan dengan kemerosotan ekonomi Jepang, ada pula klub yang ikut jatuh. Pada tahun 1998, Yokohama Flugels yang merupakan klub pelopor J-League, mengalami kebangkrutan. Mereka juga mengumumkan telah merger dengan rival sekota, Yokohama Marinos.

Di musim terakhirnya, ketika takdir buruk sudah dipastikan, Flugels menjadi tim kejutan di Emperor Cup. Tim yang dipimpin oleh pelatih asal Jerman Gert Engels ini melaju hingga babak final. Dukungan publik dan komuntas Jepang selalu mengalir kepada para pemain Fluegels. Mereka akhirnya berhasil mengalahkan Shimizu S-Pulse di final di mana laga tersebut dinobatkan sebagai partai paling dramatis dalam sejarah sepakbola Jepang.  

Klub yang bubar itu lalu dibentuk kembali oleh sekumpulan suporter dan diganti namanya menjadi Yokohama FC. Mereka masuk lewat JFL, yang merupakan divisi ketiga, lalu promosi ke J2 pada 2001. Keyakinan kuat dari para mantan suporter Fuluegels itu telah mengindikasikan ada passion dari publik Jepang akan sepakbola.

Segalanya berpuncak pada tahun 2002, tahun di mana Jepang dan Korea Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia. Timnas Jepang yang dipimpin oleh Philippe Troussier sanggup lolos ke babak 16 besar namun langkah mereka dihentikan oleh Turki, yang menjadi juara ketiga dalam turnamen itu. Meski demikian, penampilan tersebut sanggup mengobati kekecewaan Jepang di PD 1998, di mana tim Samurai Biru yang dilatih Takashi Okada bertarung dengan baik namun kalah di tiga pertandingan grup.


Di bagian keempat rangkaian sejarah J-League, Jepangers menggambarkan kemenangan Gamba Osaka dan Urawa Reds di Benua Kuning serta awal mula karier pemain Jepang di Eropa.



Diawali oleh sang pemberani Kazu Miura yang mengadu nasib ke Italia bersama Genoa pada 1994, jejaknya kemudian diikuti oleh beberapa pemain lainnya. Sayang, kariernya tak berjalan mulus. Sampai akhirnya muncul lah nama Hidetoshi Nakata ke Perugia pada 1998, mulai saat itu sepakbola Jepang mulai dipandang serius di Benua Lama.

Butuh usaha kolektif selama sepuluh tahun, tapi "Hide" akhirnya mencuri perhatian dengan sepasang gol ke gawang Juventus ketika berseragam AS Roma, sekaligus membuka jalan buat pemain lain yang ingin mengikuti jejaknya. Shinji Ono (di Feyenoord dari 2001), Naohiro Takahara (Boca Juniors mulai 2001), Junichi Inamoto (Arsenal mulai 2001), Shunsuke Nakamura (Reggina mulai 2002), dan banyak pemain lainnya, yang mendapat label "generasi emas" setelah sukses menyabet medali perak di Piala Dunia U-20 1999, mencoba peruntungan di luar negeri.

Karier Nakata di Eropa naik turun, sampai akhirnya dia memutuskan menyudahi petualangannya pada 2006, saat usianya belum 30 tahun. Tapi, dia pulang dengan kepala tegak, membawa Scudetto bersama Roma dan Coppa Italia yang dilklaimnya ketika berseragam Parma.

Kembali ke Jepang. Pada 2003 dan 2004 kompetisi didominasi oleh satu klub: Yokohama F. Marinos ("F" ditambahkan sebagai penghormatan kepada Fluegels). Diarsiteki Takeshi Okada, yang membawa Jepang di Piala Dunia 1998, The Sailors memenangkan gelar format "dua babak" pada 2003 dan secara dramatis menang di final 2004 atas Urawa Reds, setelah serangkaian ketidakberuntungan di kompetisi.

Berbasis di Saitama, kawasan utara Tokyo, Reds menjadi klub pertama yang mampu mengumpulkan banyak suporter. Dengan stadion berkapasitas 60 ribu kursi, yang dibangun untuk menggelar debut Jepang di Piala Dunia 2002, klub memiliki jajaran pemain kelas atas Jerman (Uwe Bein, Guido Buchwald, Michael Rummenigge, dll) yang memenangkan Emperor Cup pada 2005, trofi pertama mereka.

Rival utama mereka adalah klub pinggiran kota, Gamba, yang terletak sekitar 7 km di luar sungai Yudo di pinggiran utara Osaka. Persaingan antara kedua klub ini disebabkan banyaknya pertandingan kenangan yang dimulai pada 2005. Setelah saling sikut, masing-masing tim akhirnya mencatat kemenangan perdana mereka, gelar yang amat bersejarah: Gamba merengkuhnya pada 2005, sementara Reds akhirnya menyabet titel pertama di J-League di tahun berikutnya.

Melihat tahun-tahun yang menyenangkan tersebut, ada insiden yang paling mengejutkan yang terjadi di hari terakhir musim 2005. Pada 3 Desember, lima tim melangkah ke lapangan dengan kesempatan menyabet gelar: selain Reds, ada JEF United, Antlers, dan dua klub Osaka, dengan Cerezo mengoleksi poin lebih banyak dibandingkan yang lain dan menjadi satu-satunya tim yang menentukan nasib mereka.

Tim kuda hitam tampak di atas angin, karena mereka masih unggul 2-1 dari FC Tokyo di menit ke-90, tapi gol telat yang dicetak Yasuyuki Konno melempar mereka hingga ke peringkat lima klasemen dengan perbedaan selisih gol. Sang rival sekota, Gamba Osaka, yang menang 4-2 di Kawasaki Frontale akhirnya keluar sebagai juara. Trofi juara yang sudah dikeluarkan dari kotaknya di Stadion Nagai, karena sebelumnya hampir diberikan kepada Cerezo, dengan cepat dikirim ke markas Gamba.

Gamba dan Reds merupakan klub pertama setelah Antlers pada 1996 yang memenangkan J-League dengan format satu babak ketika liga kembali ke format tersebut pada 2005, setelah pada 2003 mereka mengadopsi sistem standar internasional: pertandingan 90 menit, tiga poin untuk tim pemenang, satu untuk hasil imbang, dan nol untuk kalah.




Dua klub yang sama juga menjadi yang pertama memenangkan Liga Champions Asia dalam format baru: Reds dan ribuan suporter setia sukses menggulingkan wakil Iran Sepahan pada 2007, sementara Gamba menyabetnya di 2008, setelah mengeliminasi Reds di semi-final. Situasi tersebut menjadi bukti era keemasan buat klub-klub Jepang di Asia.

Sukses di turnamen Benua Kuning memberikan kesempatan kepada Gamba dan Reds berjumpa dua raksasa sepakbola Eropa di ajang Piala Dunia Antarklub: Reds menyerah dari AC Milan pada 2007, lalu Gamba dicukur 5-3 oleg Manchester United pada 2008, dua hasil terhormat untuk wakil Asia.

Mengapa terhormat? Karena terlepas dari kekalahan tersebut, dua pertandingan yang diperjuangkan habis-habisan oleh tim Jepang, membantu menaikkan pandangan dunia terhadap J-League, meski kampanye kurang memuaskan disuguhkan timnas di Jerman 2006.

Tapi, faktor paling penting mungkin adalah, meski akhirnya meninggalkan format dua babak, jumlah penonton terus meningkat, karena hampir semua perebutan gelar harus ditentukan hingga hari-hari terakhir musim kompetisi.

Sejak 2005, J1 tumbuh menjadi 18 klub, sama dengan jumlah sebagian besar liga top Eropa, sementara J2 masih terus berkembang, dengan melibatkan 12 klub pada 2001 dan 13 di 2006.

Sejak 2004 sampai 2008, satu tempat promosi dari J2 ke J1 diperebutkan melalui laga play-off kandang dan tandang yang dimainkan antara tim yang finis ketiga dari posisi buncit J1 dan ketiga di J2. Pertandingan yang disebut "Irekae-sen" ini menyuguhkan sejumlah musim drmatis dan penampilan bersejarah, termasuk kemenangan Ventforet Kofu atas Kashiwa Reysol dengan skor 6-2 pada 2005, di mana pemain asal Brasil, Bare, mencetak enam gol sekaligus, "double hat-trick".


Di bagian terakhir ini kita akan membahas soal kompetisi J-League dalam beberapa tahun terakhir, termasuk ketatnya persaingan di J1 sebagaimana perluasan kompetisi di Jepang.

Tahun-tahun dari 2007 hingga sekarang adalah fase final dalam pematangan sepakbola Jepang, dan hal tersebut merupakan konsolidasi dari J-League. Sejak 2004, jumlah penonton terbilang stabil, dengan J1 rata-rata disaksikan oleh 18.000 hingga 19.000 suporter, dan 6.000 hingga 7.000 untuk J2. Sebuah angka yang bahkan mengalahkan beberapa liga di Eropa.

Kashima Antlers, yang sempat dihuni Zico selama tiga musim semi pada pertengahan 90-an, mengontrak Oswaldo Oliviera sebagai pelatih kepala. Pria Brasil itu sukses menghadirkan tiga gelar J-League dari 2007 hingga 2009 (sebuah rekor), dan melanjutkan seri kejayaan dengan memenangi Piala Emperor pada 2010 dan sebuah Piala Liga Yamazaki Nabisco pada 2011. Tim itu kemudian dilatih lagi oleh sosok Brasil lainnya, Jorginho, yang sukses mempertahankan gelar Piala Liga pada 2012. Antlers sendiri untuk saat ini merupakan klub dengan gelar terbanyak di Jepang, dengan total 20 piala.

Namun, ada banyak cerita lagi yang hadir dalam beberapa tahun terakhir. Tengoklah Nagoya Grampus pada 2010 dan Sanfrecce Hiroshima pada 2012 yang memenangi trofi J-League untuk pertama kalinya dengan dibimbing mantan pemainnya: Dragan Stojkovic dan Hajime Moriyasu.

Mungkin, apa yang terjadi di 2011 terbilang lebih menarik, saat tim promosi Kashiwa Reysol, yang ditukangi oleh juru taktik asal Brasil, Nelsinho, sukses memenangkan trofi J-League tepat setahun setelah mereka promosi dari J2 - sebuah peristiwa langka di sepakbola.

Di akhir musim tersebut, Reysol mewakili Jepang di Piala Dunia Antarklub, yang di mana mereka sukses merebut posisi empat besar setelah bertarung di babak semi-final melawan tim Brasil Santos. Saat itu, tim asuhan Nelsinho memberikan perlawanan nyata kepada Neymar Jr. dan rekan-rekannya.

Namun, dimensi internasional yang baru dicapai oleh sepakbola Jepang lebih baik jika dinyatakan dalam jumlah pemain yang dibesarkan di J-League dan dipekerjakan oleh klub-klub Eropa. Pada 2013, sekitar 30 pemain Jepang tinggal di benua tua, dengan sosok seperti Shinji Kagawa, Keisuke Honda dan Yuto Nagatamo semuanya sukses meraih gelar juara bersama klubnya masing-masing dan menjadi figur populer di dunia.

Pada 2010, Jepang memainkan Piala Dunia keempatnya secara beruntun di Afrika Selatan, dengan dipimpin lagi oleh Takeshi Okada, dan tampil secara positif. Mereka tersisih setelah kalah dalam adu tendangan penalti melawan Paraguay di babak 16 besar. Hasil tersebut membuktikan bahwa mereka lebih baik ketimbang kekuatan sepakbola seperti Italia dan Prancis yang tersingkir di babak penyisihan grup.

Selain sosok Honda, pemain yang menarik perhatian pemerhati sepakbola internasional di turnamen ini adalah Yuji Nakazawa dan Marcus Tulio Tanaka. Keduanya lahir dan dibesarkan oleh J-League, berposisi sebagai bek tengah, dan membantu lini belakang Jepang dengan hanya kebobolan dua gol dalam empat laga.



Setahun berselang, tepatnya pada 2011, Jepang dihantam oleh bencana alam paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir, yakni ketika gempa dan tsunami meluluhlantakkan area di sebelah utara negara itu pada 11 Maret.

Sepakbola lantas menjadi katalis untuk solidaritas, sebagaimana di seluruh penjuru negeri saling memberi support untuk membantu daerah yang membutuhkan bantuan. Pada 29 Maret, tim nasionalnya, yang dipimpin oleh manajer asal Italia Alberto Zaccheroni, berkumpul lagi di Osaka untuk menghadapi pemain all-star dari J-League yang kemudian diberi nama "Team as One". Partai malam itu dihiasi dengan sebuah gol dari pemain veteran Kazu Miura, yang saat itu berusia 44 tahun, yang lantas menandai rangkaian panjang acara solidaritas yang berlanjut hingga hari ini.

Terbentuknya persahabatan di kalangan suporter merupakan karakteristik yang meliputi J-League sejak hari-hari awal, dan meskipun para pendukung tersebut dipisahkan dalam ultras, mirip dengan mereka yang di Eropa, namun segala bentuk kekeresan hampir tidak pernah terdengar, dan mereka akan membulatkan suara untuk mengutuknya.

Keterlibatan klub dengan komunitas mereka telah membantu untuk menciptakan suasana yang sangat ramah di stadion. Bahkan, lebih dari 40 persen penonton di J-League saat ini adalah perempuan, dan sangat umum untuk mendapati anak-anak dan orang tua di tribun yang ingin menikmati pertandingan dengan keluarga mereka.

Di atas lapangan, sebagaimana pemain-pemain top hijrah menuju Eropa, mereka lantas digantikan oleh bibit baru dari sistem akademi klub, dengan sepakbola Jepang yang terus mengalami perkembangan baik secara taktik dan teknik.

Musim 2013 ini diisi dengan 18 klub yang bermain di J1 dan 22 di J2, dan mereka akan kedatangan 12 klub lainnya pada 2014 ketika mereka membuka divisi tiga (J3) yang pada akhirnya akan membuat klub profesional di Jepang ada 52.

Pertumbuhan sepakbola Jepang sebelumnya sudah direncanakan dengan matang dengan membuat program terencana yang oleh J-League disebut “Visi Ratusan Tahun” yang bertujuan untuk mempromosikan sepakbola dalam rangka menciptakan “Sebuah Negara Bahagia Melalui Olahraga.”

Prestasi yang telah digapai oleh sepakbola Jepang dalam 20 tahun terakhir terbilang mengesankan. Dan atas keberhasilan tersebut, diharapkan akan ada lebih banyak orang lagi di dunia yang akan menikmati J-League sebagaimana yang telah dilakukan jutaan fans di Jepang.

Setelah baca sejarahnya, monggo mampir dulu ke channel youtube nya j-league , langsung ke tkp

Nah itu tadi sejarah tentang J-League, semoga Sepok bola Indonesia juga bisa kaya Jepang ya.
Sekarang kalo mau liat klasement J-League ter update langsung ke Sini

dikutip dari laman http://www.goal.com/id-ID/news/3465/j-league-jepang/2013/09/12/4255762/sejarah-j-league-permulaan-liga-hingga-visi-masa-depan

Itulah Sejarah J-League Sepak Bola Jepang barang kali sobat jepangers adalah pencinta setia j-league bisa sharing pengetahunnya dikolom komentar
Advertisemen

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Disqus Comments