Anime Batch Update

Jangan Kaget Puasa di Jepang Hampir 24 Jam

Jepangers - Lain ladang lain belakang. Begitulah ungkapan yang tepat untuk menunjukkan kebiasaan yang berbeda di setiap wilayah. Sebut saja soal ibadah puasa yang saat ini dilaksanakan oleh kaum muslim di seluruh dunia. Orang Jepang sampai saat ini masih bingung dan mempertanyakan puasanya orang Indonesia.


"Tidak salah tuh? Serius nih tidak makan tidak minum?". Itulah kata-kata yang mereka ungkapkan. sebutlah Dani, datang minggu lalu di Tokyo, pas dimulainya puasa. Menetap di rumah orang Jepang.

"Tidak salah kamu puasa, panas begini apa kuat?" tuan rumah tanya kepada Dani dan dijelaskan oleh Dani memang kewajibannya sebagai muslim untuk puasa mengikuti ajaran agama yang bersangkutan.
Kalau tadi tuan rumah orang Jepang yang bingung dan kaget, kini giliran Dani sendiri yang kaget karena baru pertama kali ke Jepang.

Betapa tidak. Saat makan sahur di Jepang jam 02.30 pagi dan waktu berbuka puasa sekitar jam 19.05 malam.

"Hah? Tidak salah tuh pak? Panjang sekali,"

Meskipun demikian Dani memang tetap mengiyakan dan menjalankan ibadahnya dengan baik. Sementara tuan rumah orang Jepang malah semakin bingung.

"Tidak salah tuh Dani bangun pagi-pagi jam 02.30 sementara kita masih tidur kaget juga jadinya. Kami kira Dani sakit bangun pagi-pagi sehingga kami agak kaget juga dan terbangun," ungkap si Jepang tuan rumah kepada

Danjiki atau puasa di Jepang juga dilakukan dengan khusuk oleh para staf Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo. Setiap hari salat bersama sekitar jam 11.00 dan istirahat sampai jam 14.00 waktu Tokyo. Kantor Imigrasi baru buka kembali jam 14.00.

Seorang asing yang ingin mengurus Visa Indonesia karena biasanya mulai jam 13.30 sudah buka, terpaksa harus menunggu ekstra 30 menit.

"Tidak apa, saya mengerti karena bulan Ramadan, jadi saya tunggu saja deh sampai buka kembali kantor Imigrasi-nya," papar wanita asing tersebut.


Saat malam tiba salat tarawih di Tokyo juga dilakukan secara tenang dan tidak mengganggu masyarakat. Salat tarawih di berbagai tempat di Tokyo, baik masjid maupun aula, tidak menggunakan pengeras suara yang terdengar keluar. Pengeras suara hanya diperdengarkan di dalam ruangan saja.

Bentuk toleransi orang Indonesia yang ada di Jepang. Ada pula yang mengetahui jam salat dari setting jam salat di ponselnya, sehingga saat salat tiba, ponselnya otomatis mendengungkan suara panggilan untuk salat.

Sebuah perusahaan Indonesia yang ada di Tokyo, pimpinannya juga melakukan demikian. Akibatnya beberapa stafnya kadang sempat kaget, suara apa ya itu seperti orang berdoa?
Setelah mendengarkan sesaat dan dijelaskan staf Indonesia yang lain barulah si Jepang, staf perusahaan itu juga, akhirnya mengerti.

Namun beda dani beda pula dini, Bagi Dini Apliana, ibadah puasa di Jepang ini adalah kali ketiga bagi dirinya. Namun, Dini merasakan perbedaan saat menjalani puasa di tahun-tahun sebelumnya di Negeri Matahari Terbit itu.


"Dulu waktu mahasiswa saya sempat mengikuti program pertukaran di Nagoya dan sempat merasakan Ramadan pada 2003. Pada tahun 2006, saya mengikuti program magang untuk pegawai Kemlu yang baru di KBRI Tokyo dan datang pada waktu bulan Ramadan. Sekarang, saya baru datang bulan Mei yang lalu untuk penugasan selama kurang lebih 3 tahun ke depan," ujar Dini

Namun, baru kali kali ini dia berpuasa saat Jepang mengalami musim panas. Dulu saya merasakan puasa di Jepang tapi selalu musim dingin. Subuh jam 5, magrib jam 17. Puasa kali ini, Imsak jam 3 pagi dan Magrib jam 7 malam," ujar perempuan yang berkarir sebagai diplomat muda Indonesia di Jepang itu.

Namun, Dini melanjutkan bahwa, menurut jadwal, mendekati akhir Ramadan lama kelamaan waktu Imsak akan lebih lambat, yaitu mengarah ke setengah empat pagi sementara jam magrib akan lebih cepat, yaitu mengarah ke pukul setengah tujuh malam.

Mengingat Ramadan berlangsung pada musim panas, masyarakat Indonesia di Jepang sudah bersiap-siap kepanasan di bulan suci ini. Pasalnya, bulan Juli lalu suhu sudah mencapai 30-32 derajat celcius di Tokyo dan biasanya akan terus naik, khususnya pada bulan Agustus ini.

Namun, karena perubahan cuaca dan sempat terjadinya taifun, cuaca berubah cukup drastis, menjadi hujan, mendung dengan suhu sekitar 24-30 derajat. "Jadi, selama minggu pertama Ramadhan di Tokyo ini dipastikan cuaca akan cukup bersahabat dalam artian suhu tidak terlalu gerah dan sinar matahari tidak terlalu panas. Namun, ada kemungkinan suhu di minggu-minggu berikutnya akan kembali panas lagi," ujar Dini, yang berstatus sebagai Sekretaris Ketiga Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo.  

Menurut dia, sebagian dari masyarakat berpandangan bahwa suhu yang cukup sejuk ini adalah sedikit 'bonus' dari Allah "supaya kita tidak terlalu kaget untuk berpuasa di suhu yang panas sekali."

Setiap bulan Ramadan, KBRI Tokyo bekerja sama dengan Kelompok Masyarakat Islam Indonesia (KMII) Tokyo telah mengundang ustadz dari Indonesia bergantian selama seminggu hingga Ramadhan berakhir. Ustadz diundang untuk menjadi imam dalam shalat teraweh yang diselenggarakan di Balai Indonesia, Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) di daerah Meguro.

Selain tarawih bersama, setiap dzuhur di KBRI, ustadz juga menyampaikan kultum dan tanya jawab dengan jamaah. Kegiatan lain yang dilakukan oleh masyarakat muslim Indonesia di Tokyo adalah kajian agama islam kemuslimahan untuk kaum muslimah yang diselenggarakan seminggu sekali setiap hari Jumat siang di SRIT.

Selain itu, KMII juga menyelenggarakan acara Malam Bina Iman dan Takwa pada setiap akhir pekan dari pukul 00.00 hingga dilanjutkan dengan sahur bersama.

Dini mengaku menjalani Ramadan di negara asing tentu menimbulkan kerinduan akan keluarga, makanan dan suasana di tanah air. Ditambah lagi, suasana di tokyo yang tidak ada sentuhan Ramadan sedikit pun karena mereka tidak dekat dengan budaya Islam dan bahkan mungkin mereka tidak menyadari sekarang sedang bulan Ramadan.


"Restoran masih ramai, banyak orang makan di sekeliling, serta tidak ada lantunan adzan yang dinantikan atau lagu-lagu ramadhan di mal-mal," kata Dini.

Namun segala kerinduan akan tanah air itu diatasi dengan berkumpul bersama dengan sesama masyarakat Indonesia, buka bersama dengan masakan Indonesia seperti risol, bakso atau kolak, tentu dengan bahan-bahan seadanya yang bisa didapat di Tokyo. "Acara-acara semacam itu bisa sedikit mengobati kerinduan dengan suasana Ramadhan di tanah air," ujar Dini.

Tidak ada komentar