Istilah-istilah Dan Keunikan Dalam Perayaan Tahun Baru di Jepang

Advertisemen
Jepangers - Setiap negara tentu memiliki cara tersendiri untuk menyambut dan merayakan Tahun Baru. Di Jepang, kegiatan menyambut tahun baru sudah dimulai sejak dua atau tiga minggu sebelum pergantian tahun. Di daerah Kanto, hari persiapan tahun baru yang disebut o-koto hajime (お事始め, awal kegiatan) jatuh pada 8 Desember, sedangkan di daerah Kansai pada 13 Desember.



Mereka memiliki beberapa kebiasaan dan tradisi yang masih dilakukan sampai sekarang.
Selain itu masyarakat Jepang masih memegang tradisi lama dan menggabungkannya dengan aktivitas modern dalam merayakan tahun baru. Kali ini, Admin yang ganteng  akan menjabarkan kegiatan seperti apa saja yang dilakukan oleh masyarakat Jepang dalam menyambut dan merayakan tahun baru.  Admin mulai dengan kegiatan sebelum perayaan tahun baru.


Sebelum Perayaan Tahun Baru


Bersih-bersih atau Osouji


Acara bersih-bersih di akhir tahun ini sedikit berbeda dengan bersih-bersih harian karena bersifat total dan besar-besaran. Kegiatan ini juga biasanya melibatkan hampir semua anggota keluarga. Semua sudut dan pojok rumah yang biasanya tidak tersentuh sapu atau lap sama sekali pada hari tersebut mulai mendapat bagian. Semua isi lemari dibongkar dan disusun ulang. Bukan cuma itu, kulkas, mesin cuci dan benda berat lainya digeser dan dibersihkan terutama bagian belakang dan bawah. Menyisakan debu dan kekotoran lain pada tahun berikutnya dipercaya akan mendatangkan pengaruh buruk pada diri atau keluarga.

Tentu saja, aktivitas ini bisa dibilang sangat melelahkan dan tidak jarang bisa berlangsung selama beberapa hari terutama bagi mereka yang mempunyai rumah cukup luas. Bagi keluarga yang anggotanya berusia lanjut tentu akan menjadi masalah besar. Biasanya anak atau keluarga lain akan ikut membantu, namun tidak jarang karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan banyak keluarga yang lebih senang memakai jasa pembersih rumah.

Sedangkan khusus untuk lingkungan kuil, aktivitas bersih bersih ini dianggap sebagai bagian dari upacara ritual.



Hiasan, Dekorosi atau sesajen

Setelah acara bersih-bersih selesai, maka dilanjutkan dengan acara mendekorasi rumah atau kantor. Ada cukup banyak hiasan yang ada, namun yang umum ditemukan adalah Shimenawa, yaitu hiasan yang digantung di depan rumah, berupa jerami yang dibentuk atau diplintir sedemikan rupa membentuk bulatan dipadu dengan daun cemara dan dipasang di depan rumah. Kemudian dekorasi lain yang biasa ditemukan adalah kagami mochi yaitu tumpukan kue mochi dan jeruk namun entah kerena alasan praktis atau apa, buah jeruk kebanyakan sudah diganti dengan buah plastik yang menyerupai jeruk.


Untuk pusat perbelanjaan toko dan sejenisnya biasanya akan memasang hiasan yang cukup besar yang berbentuk tiga bambu runcing berukuran besar berpadu dengan daun cemara atau pohon lain. Hiasan ini disebut dengan nama Kadomatsu.



Berkirim Kartu Pos atau Nengajou

Sudah menjadi kebiasaan dari kebanyakan orang Jepang untuk mengirim kartu pos sebelum tahun baru yang dikenal dengan nama Nengajou. Kartu yang dikirim umumnya rata rata sekitar lima lembar untuk tiap orang atau satu keluarga, sedangkan bagi mereka yang memiliki tempat usaha (bisnis) umumnya akan lebih banyak lagi. Jadi bisa dibayangkan ada berapa juta lembar kartu post yang beredar pada acara peringatan tahun baru.


Jadi kamu bisa bayangkan betapa sibuknya petugas pos di Jepang setiap menjelang akhir tahun. Untuk mengatasi lonjakan surat yang luar biasa besar ini, pihak pos biasanya akan membuka lowongan kerja paruh waktu besar besaran pada setiap akhir tahun yang biasanya direkrut dari anak sekolahan.

Profesionalisme petugas pos sangat dipertaruhkan saat itu, karena semua surat harus dikirim tepat waktu, tidak boleh dikirim terlambat dan juga tidak boleh dikirim terlalu cepat. Umumnya kartu pos tahun baru memiliki tanda khusus agar mudah dibedakan dengan kartu pos atau surat biasa. Umumnya kartu pos bertanda khusus ini akan disimpan terlebih dahulu, dipilah dan digabung menjadi satu serta mengirimnya pada hari yang tepat. Jadi surat akan kita dalam satu ikat berisi belasan atau bahkan puluhan kartu post ucapan tahun baru.



Menyiapkan Makanan Khusus atau Osechi

Selama tahun baru dan beberapa hari setelahnya umumnya keluarga di Jepang tidak melakukan acara masak memasak, jadi acara memasak ini dilakukan sebelum tahun baru. Makanan itu disebut dengan Osechi yaitu terdiri dari berbagai lauk pauk, ketela, ikan kering, udang dll, berwarna sedikit gelap atau coklat. Sup zōni dari kuah dashi yang berisi mochi dan sayuran merupakan salah satu masakan osechi. Berbagai macam lauk masakan osechi dimasak berhari-hari sebelumnya dan diatur di dalam kotak kayu bersusun yang disebut jūbako (重箱?). Toko swalayan besar sejak beberapa minggu sebelum tahun baru juga sudah membuka pemesanan osechi. Lauk pada masakan osechi biasanya sangat manis atau asin, seperti: kuromame, tatsukuri (gomame), kombumaki, kamaboko, kurikinton, kazunoko, dan datemaki.


Cara membuat makanan ini relatif rumit karena ditutut harus bisa tahan selama dua tau tiga hari. Keluarga Jepang modern sekarang umumnya sudah tidak membuatnya lagi namun cukup membelinya pada toko tertentu. Makanan osechi ini berharga cukup mahal, yaitu sekitar 20 ribuan yen yang kalau dirupiahkan adalah sekitar 2 jutaan per set. Satu set umumnya terdiri dari tiga kotak kayu yang mewah dan dibungkus dengan kain bermotif yang sangat indah.



Bonenkai

Bonenkai adalah salah satu tradisi ataupun kebiasaan yang diadakan beberapa perusahaan ataupun perkumpulan organisasi di Jepang yang diadakan di sekitar akhir Desember, menjelang tutup buku tahunan. Arti secara terminologi dilihat dari kanji yang tertulis,“Bonenkai (忘年会)”memiliki makna: Pesta untuk melupakan tahun (lama).


Untuk mensukseskan acara bonenkai ini, biasanya satu orang akan ditunjuk menjadi‘Kanji (幹事)’yang bertugas menjadi koordinator; Mengkoordinasi acara, melakukan pemesanan tempat dan menghubungi orang-orang yang akan berpartisipasi dalam acara tersebut. Biasanya, jauh-jauh hari, beberapa restauran ataupun hotel sudah penuh terpesan oleh beberapa group yang ingin merayakan bonenkai. Acara ini diawali dengan ‘Kanpai’ (minum bersama) yang kemudian dilanjutkan dengan makan-makan, berkaraoke, atau minum-minum sampai mabuk hingga larut malam. Berusaha melupakan beberapa hal yang tidak menyenangkan selama menjalani kerja satu tahun.



Puncak Perayaan Malam Tahun Baru


Hari tanggal 31 Desember atau malam tahun baru disebut ōmisoka (大晦日?). Di malam tahun baru, orang Jepang mempunyai tradisi memakan soba yang disebut toshikoshi soba (年越しそば, soba melewati tahun).

Stasiun televisi di Jepang bersaing memperebutkan pemirsa dengan berbagai acara malam tahun baru. NHK mempunyai tradisi menayangkan acara Kōhaku Uta Gassen, berupa kompetisi lagu antarpenyanyi terkenal yang dibagi menjadi kubu merah dan kubu putih. Menjelang pukul 12 malam, genta yang terdapat di berbagai kuil agama Buddha di Jepang dibunyikan. Tradisi memukul genta menjelang pergantian tahun disebut joya no kane (除夜の鐘). Genta dibunyikan sebanyak 108 kali sebagai perlambang 108 jenis nafsu jahat manusia yang harus dihalau.

Selain itu festival kembang api (hanabi) selalu memeriahkan Tahun Baru di kota-kota besar.



Doa pergantian tahun  

Lho? Kok berdoa, bukannya pesta ? Ya, inilah perayaan unik tahun baru ala Jepang. Jadi jangan harap menemukan kemeriahan pesta kembang api, kemacetan jalan, suara klakson dan terompet. Suasana jalan terlihat sepi dan biasa biasa saja namun justru area sekitar kuil-lah yang luar biasa karena penuh dengan kerumunan orang yang menyemut. Bahkan sekedar untuk bisa masuk melewati gerbang utamapun sepertinya bukan perjuangan yang mudah karena harus melewati antrean yang sangat panjang bahkan sampai jauh ke jalan raya. Sedikit catatan, bulan desember adalah musim dingin di Jepang, jadi bisa dibayangkan berdiri di luar rumah di tengah dinginnya malam selama berjam-jam tentu bukan aktivitas yang menyenangkan.


Umumnya jadwal kereta api di Jepang akan berakhir tengah malam namun khusus untuk tahun baru, semua kereta bawah tanah pusat kota dan kereta biasa untuk jalur tertentu akan dibuka nonstop 24 jam. Jadi khusus untuk tahun baru, siapaun bisa melewati tahun baru dengan nyaman tanpa ada rasa khawatir ketinggalan kereta saat pulang.

Tepat tengah malam, saat hitungan mundur mulai menyentuh angka nol, kerumunan orang di halaman utama secara serentak melempar kepingan uang logam ke arah altar utama dan tangan dicakupkan di dada dan doa yang tidak lebih dari 5 detik itupun selesai. Antrean di luar kuil yang tadinya tertahan mulai bisa bergerak dan secara perlahan lahan mulai memasuki altar utama untuk berdoa. Suasana menjadi lebih tertib dan ritual melempar uang koin sebelum memanjatkan doa menjadi lebih terarah dan tidak sampai mengenai kepala orang seperti kejadian sebelumnya.


Menjelang pagi kuil bukannya menjadi sepi tapi malah bertambah ramai karena kebanyakan orang ingin datang ke kuil sepagi mungkin dan khusus untuk tahun baru dan aktivitas ini disebut dengan Hatsumoude atau kunjungan hari pertama ke kuil. Untuk kuil kecil dan menengah, keramaian umumnya hanya berlangsung sampai tengah hari, sedangkan untuk kuil besar umumnya bisa berlangsung sampai 2 atau 3 hari setelah tahun baru.



Minum sake  


Setelah melakukan doa, biasanya kebanyakan orang akan mendatangi bagian penjualan Omamori atau jimat keberuntungan, Omikuji atau kertas yang berisi ramalan nasib yang akan diikat di ranting atau tempat yang disediakan kalau ramalannya jelek dan dibawa pulang kalau bagus. Beberapa kuil tertentu kadang ada ritual minum sake sebagai simbul pencucian atau kebersihan. Sake disajikan dalam piring sangat kecil berbentuk datar, jauh lebih kecil dari piring sake standard, jadi hanya bisa menampung beberapa mili liter sake saja namun menurut aturan lalu lintas, sudah melebihi ambang batas minimal. Jadi para pengemudi dan juga mereka yang belum genap berumur 20 tahun tidak mengkonsumsinya.


Omikuji





Umumnya kuil yang menggelar pergantian tahun dengan berdoa adalah kuil Shinto jadi menjelang tahun baru kuil kelompok inilah yang paling. Kuil Buddha hampir tidak melakukan aktivitas khusus yang berskala masal kecuali doa biasa dan Osouji. Namun walaupun begitu setidaknya tepat menjelang tengah malam kita tetap bisa mendengar suara lonceng besar yang dipukul berulang kali yang bisa didengar hingga jarak ratusan meter, sebagai tanda pergantian tahun. Untuk lingkungan gereja sepertinya juga melakukan hal yang tidak jauh berbeda.


Baca Juga :

Setelah Perayaan Tahun Baru



Tahun baru (正月 : shōgatsu) di Jepang dirayakan tanggal 1 Januari dan berlangsung hingga tanggal 3 Januari. Dalam bahasa Jepang, kata “shōgatsu” dulunya dipakai untuk nama bulan pertama dalam setahun, tapi sekarang hanya digunakan untuk menyebut tiga hari pertama di awal tahun.

Istilah “shōgatsu” juga digunakan untuk periode matsu no uchi (松の内) atau masa hiasan daun pinus (matsu) boleh dipajang. Di daerah Kanto, Matsu no uchi berlangsung dari tanggal 1 Januari hingga 7 Januari, sedangkan di daerah Kansai berlangsung hingga koshōgatsu (小正月, tahun baru kecil) tanggal 15 Januari.



anggal 1 Januari adalah hari libur resmi di Jepang, tapi kantor pemerintah dan perusahaan swasta tutup sejak tanggal 29 Desember hingga 3 Januari. Bank dan lembaga perbankan tutup dari tanggal 31 Desember hingga 3 Januari, kecuali sebagian ATM yang masih melayani transaksi.

Tanggal 1 Januari disebut ganjitsu (元日, hari pertama), sedangkan pagi hari 1 Januari disebut gantan (元旦, pagi pertama). Perayaan tahun baru berlangsung selama tiga hari yang disebut sanganichi (三が日, 3 hari).

Sampai tahun 1970-an, sebagian besar toko dan pedagang eceran di daerah Kanto tutup hingga tanggal 5 Januari atau 7 Januari. Perubahan gaya hidup dan persaingan dari toko yang buka 24 jam membuat kebiasaan libur berlama-lama ditinggalkan. Mulai tahun 1990-an, hampir semua mal dan pertokoan hanya tutup tanggal 1 Januari dan mulai buka keesokan harinya tanggal 2 Januari, tapi biasanya dengan jam buka yang diperpendek. Hari pertama penjualan barang (hatsu-uri) di pusat pertokoan dimeriahkan dengan penjualan fukubukuro (kantong keberuntungan). Penjualan barang di semua mal dan pertokoan sudah normal kembali sekitar tanggal 4 Januari.

Bagi sebagian orang, tahun baru belum berakhir sampai tanggal 20 Januari yang disebut hatsuka shōgatsu (二十日正月, tahun baru tanggal 20), saat semua hiasan tahun baru sudah harus disimpan. Di daerah Kansai, Hatsuka shōgatsu dikenal sebagai honeshōgatsu (骨正月, tahun baru tulang) karena biasanya pada hari tersebut, ikan masakan tahun baru sudah habis dimakan sampai ke tulang-tulangnya.

Penutupan perayaan tahun baru ditandai dengan memakan bubur nanakusa yang dimasak dengan 7 jenis sayuran dan rumput. Bubur ini dimakan tanggal 7 atau 15 Januari agar perut bisa beristirahat setelah dipenuhi makanan tahun baru.



Shinnenkai

Shinnenkai (新年会), secara harfiah berarti pertemuan tahun baru, adalah tradisi Jepang dalam menyambut kedatangan tahun baru. Hampir sama dengan Bonenkai, acara ini diadakan antara para pekerja atau teman yang dilakukan pada bulan Januari.



Kesenian dan permainan

Perayaan tahun baru juga dimeriahkan dengan menulis aksara kanji pertama untuk tahun tersebut. Tradisi menulis aksara kanji yang dilakukan tanggal 2 Januari disebut kakizome (kaligrafi pertama). Tahun baru juga dirayakan dengan berbagai permainan, seperti: permainan fukuwarai (meletakkan gambar bagian-bagian wajah, seperti hidung, alis mata, dan mulut pada tempat yang tepat dengan mata tertutup), hanetsuki (bulu tangkis tradisional), menaikkan layang-layang (takoage), gasing (koma), bermaindadu (sugoroku), dan permainan memungut kartu yang disebut karuta.



Otsohi dama

Sehari setelah tahun baru, umumnya keluarga atau tetangga akan saling berkunjung mengucapkan selamat tahun baru. Mereka biasanya membawa anggota keluarga secara lengkap termasuk anak anak. Dari pihak tuan rumah, setap anak akan mendapatkan sejumlah uang yang ditaruh di dalam amplop semacam anpao dalam tradisi China atau Otoshi dama dalam bahasa Jepang. iOtoshi dama sendiri sebetulnya berarti otoshi (jatuh) dan dama atau tama (uang logam), namun dewasa ini pemberian uang logam untuk otoshi dama sudah tidak umum lagi dan cendrung berganti menjadi uang kertas yang biasanya minimal adalah 1000 yen atau sekitar 100 ribu rupiah.



Fukubukuro

Fukubukuro adalah tas belanja keberuntungan. Aktivitas ini sepertinya hanyalah akal akalan dari pedagang dalam menjual barang dagangannya. Sejumlah barang dijual dalam bungkusan khusus yang tanpa bisa kita lihat dan pilih isinya, jadi semuanya hanya berdasarkan keberuntungan semata. Walaupun gaya belanja semacam ini bagi sebagian orang aneh, namun tetap saja ramai dan jadi rebutan. Kalau kita antre di counter atau toko yang menjual mainan dan robot, tentu isinya adalah robot dan mainan saja demikian juga dengan counter atau toko lainnya. Bagi anda yang ingin mencobanya diharapkan untuk cukup kuat secara phisik karena harus rebutan dan juga yang paling penting tidak salah memilih counter atau memasuki toko. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi seandainya seorang pria salah masuk ke counter pakaian dalam wanita. Dalam suasana panik dan berebutan, hal itu tampaknya bisa saja terjadi.



Kunjungan ke tempat rekreasi

Sepertinya hal ini berlaku di belahan dunia manapun sehingga sepertinya tidak perlu banyak ditulis. Apalagi tahun baru adalah hari libur jadi tempat tempat wisata, pertokoan dan juga onsen atau tempat pemandian air panas biasanya pasti penuh sesak dengan pengunjung.



Makanan dan minuman khas tahun baru


Selain Osechi yang sudah disebutkan sebelumnya, ada 2 jenis makanan dan minuman lain yang merupakan ciri khas dari tahun baru di Jepang, yaitu:


1. Kue Mochi


Ga tega makannya kalo kuenya se unyu ini


Tahun baru identik dengan kue mochi yaitu kue ketan yang ditumbuk dan dibulatkan. Kue ini bisa disimpan dalam waktu yang cukup lama dan dihidangkan dengan cara memanggangnya di oven toaster. Karena kebanyakan keluarga di negara tersebut umumnya tidak memasak pada saat tahun baru maka kue mochi menjadi salah satu makanan alternatif yang digemari karena keawetannya.



2. Ama sake


Gambar Hanya ilustrasi


Walaupun namanya adalah sake namun sama sekali tidak memiliki kadar alkohol alias zero sehingga bebas dikonsumsi oleh anak anak. Rasanya sangat manis sesuai dengan namanya yaitu Ama sake yang berasal dari kata amai yaitu manis. Rasanya seperti minum air gula dengan rasa jahe.


Seperti itulah Prosesi penyambutan Tahun Baru di Jepang, gimana dengan di Indonesia sendiri? tentunya ga kalah. semoga saja kedepannya perayaan baru indonesia juga sama dengan di jepang perayaan tahun baru dengan budaya indonesia sendiri
Advertisemen

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Disqus Comments